Makassar - Sedikitnya lima kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) dinilai rawan kebakaran dan bencana alam yakni Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Sinjai, Luwu, dan Wajo.
Hasil survei JURnal Celebes dan Ofam GB, serta "road show" diskusi tematik tentang pengurangan resiko bencana di sejumlah daerah rawan bencana, menyimpulkan bahwa ke limat daerah itu yang dominan rawan bencana di Sulsel," ungkap Mustam Arif, Direktur Eksekutif JURnal Celebes di Makassar, Jumat (4/7).
Dijelaskan aktivis lingkungan ini, dalam dua tahun terakhir, JURnaL Celebes yang menggandeng lembaga donor asing peduli terhadap lingkungan, telah melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah rawan bencana di Sulsel.
Hasil dari pemetaan tersebut, empat daerah yang rawan bencana, umumnya sering dilanda banjir, tanah longsor, angin kencang dan kebakaran.
"Kota Makassar, Gowa, Sinjai, Wajo, dan Luwu merupakan daerah sangat rentan terhadap bencana alam maupun kebakaran," katanya.
Penyebab bencana tersebut, lanjutnya, diantaranya dipicu oleh perubahan musim secara ekstrim akibat pengaruh pemanasan global (global warming) dan rusaknya hutan.
Akibatnya, bencana alam berupa banjir dan longsor masih terus terjadi dari tahun ke tahun di daerah itu.
Terkait dengan hal tersebut, diharapkan semua pihak, terutama pemerintah harus serius mewujudkan penanggulangan bencana alam dan memberi perhatian pada pengurangan risiko bencana dan tanggap darurat.
Lebih jauh dijelaskan, selama ini sudah banyak penelitian dari objek bencana yang dilahirkan para peneliti ataupun aparatur, namun disayangkan penelitian ataupun seminar penanggulangan bencana itu, ujung-ujungnya untuk kepentingan proposal untuk menghabiskan dana APBD atau APBN.
"Sebagai contoh, sudah banyak penelitian dan program untuk mengatasi bencana rutin di Danau Tempe, Kabupaten Wajo, tetapi hasilnya tidak mengubah kondisi kritis danau tersebut, sehingga membuat masyarakat setempat sangat tergantung pada bantuan," katanya.
Pihak yang terlibat meneliti kondisi Danau Tempe kemudian menyimpulkan genangan air di danau setiap tahun sebagai katagori bencana. Sebaliknya, sebagian masyarakat di Danau Tempe justru menganggap genangan air setiap tahun sebagai bagian dari berkah, karena menambah populasi ikan.
Disisi lain, penanggulangan bencana alam saat ini masih sangat tergantung pada peran pemerintah, karena pemerintahlah yang memiliki dana serta sarana.



